Kamis, 29 Maret 2012

Apa yang akan ditinggalkan?

Gajah mati meninggalkan Gading, Harimau mati meninggalkan belangnya, dan manusia mati meninggalkan namanya. (Peribahasa)

peribahasa di atas menjelaskan bahwasanya kita sebagai manusia berpulang hanya meninggalkan nama saja. Apakah itu menjadi nama yang baik ataupun menjadi nama yang cemar, karena perilaku kita semasa hidup

Harta benda semua yang melekat di diri kita semuanya kan hilang. Hanya lah sementara . Bahkan harta benda yang diwarisi pun tidak begitu langgeng akan bertahan lama. Rasul  kita Muhammad yang mulia hanya mewarisi Hadist dan Al- Qur'an, bukan warisan harta. Namun Hadist dan Al-Qur'an tidak habis di gunakan ummatnya sampai saat ini.

Ilmu pun sebuah warisan yang gak akan habis di gunakan. Karena ilmu dapat dipakai selama-lamanya. Maka bahagialah seorang guru yang mewarisi ilmunya di dunia ini, karena selama ilmu tersebut terus di pelajari dan membawa manfaat maka pahalanya akan terus mengalir.

Trimurti gontor adalah kisah dari tiga bersaudara yang sampai saat ini warisannya tetap bermanfaat. Yaitu pondok pesantren modern Gontor. Dan Para kader Gontor sampai saat memberdayakan skill mereka untuk memajukan ummat. Mungkin untuk anda yang belum mengenal mereka berikut akan saya tulis dari sumber yang saya pelajari.


       Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasy yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.

       Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

       Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok(Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri). (Sumber Wikipedia)

dari Pondok pesantren tersebutlah kini kita memiliki dua kader terbaiknya yaitu:
1. DR. Hidayat Nur Wahid
2. DR. Din Syamsudin
tentunya masih banyak kader gontor yang tidak kalah baiknya. Namun yang ternama menurut saya adalah mereka berdua. Sampai saat ini.


Tentunya sampai saat ini banyak orang yang namanya tetap harum. Lantas apa yang dapat kita tinggalakan untuk anak cucu kita? Seperti dach jadi orang tua saja ya??hehehe..

Bukanlah harta benda melainkan amal baik. Dan nama baik kita akan tercatat. Ataupun amal buruk, sehingga yang tertinggal adalah nama yang cemar. Naudzu billah... 


 

 

2 komentar: